Dominasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Tercemar, Ahli Unair: Perbaiki Kualitas Air Jadi Solusi Utama

oleh -413 Dilihat
Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, Veryl Hasan.
Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, Veryl Hasan.

KabarBaik.co, Surabaya – Fenomena melonjaknya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Indonesia kian meresahkan masyarakat. Kondisi ini terutama terlihat di wilayah perairan yang tercemar, seperti di Jakarta, di mana spesies tersebut tampak mendominasi dan menggeser keberadaan ikan lokal.

Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), Veryl Hasan, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu sebenarnya bukan spesies yang terbatas pada wilayah tertentu. Ikan ini memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga dapat hidup di berbagai kondisi perairan, termasuk yang sudah tercemar berat.

Menurutnya, dominasi ikan sapu-sapu justru terjadi ketika kualitas air sungai memburuk. Dalam kondisi tersebut, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup, sementara ikan sapu-sapu tetap mampu berkembang pesat.

“Ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl, Rabu (22/4).

Veryl menuturkan, ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan dan di habitat aslinya merupakan ikan yang umum serta aman dikonsumsi. Namun, persoalan muncul ketika spesies ini masuk ke perairan Indonesia sebagai ikan asing tanpa predator alami yang memadai.

Selain memiliki daya tahan tinggi, ikan sapu-sapu juga bersifat predator oportunis. Mereka memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di sungai, mulai dari tumbuhan air hingga organisme kecil. Hal ini membuat persaingan semakin ketat bagi ikan lokal dalam mendapatkan makanan dan ruang hidup.

“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada perairan yang sehat, populasi ikan sapu-sapu umumnya tidak dominan karena harus bersaing dengan beragam spesies lokal. Oleh karena itu, upaya pengendalian tidak cukup hanya dengan menangkap ikan tersebut.

Veryl menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke perairan umum. Menurutnya, aturan harus diiringi dengan pengawasan ketat dan tindakan nyata di lapangan.

Selain itu, perbaikan kualitas air sungai menjadi langkah utama yang tidak bisa diabaikan. Dengan kondisi perairan yang membaik, ikan lokal memiliki peluang untuk kembali berkembang dan menjaga keseimbangan ekosistem.

“Solusi utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tegasnya.

Sebagai langkah tambahan, ia menyarankan pemberantasan secara manual dengan menangkap ikan sapu-sapu untuk dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan baku tepung ikan bagi pakan ikan hias.

Veryl juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepas ikan eksotik ke alam bebas. Jika tidak mampu merawat, sebaiknya ikan tersebut dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan sesuai prosedur, bukan dilepas ke sungai.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada kualitas air, tetapi juga dapat mengubah keseimbangan ekosistem secara signifikan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.