KabarBaik.co, Surabaya – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur mengajak kalangan intelektual kembali mengambil peran sebagai penggerak solusi bagi persoalan bangsa. Gagasan tersebut akan menjadi benang merah dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Jawa Timur 2026 yang digelar pada Sabtu (4/7) di Gedung ASEEC, Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.
Mengusung tema “Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif”, Muswil tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran untuk memperkuat kontribusi kaum intelektual dalam pembangunan daerah dan nasional.
Ketua Steering Committee (SC), Prof. Annis Catur Adi, mengatakan tema tersebut menjadi ajakan bagi para cendekiawan untuk kembali menempatkan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan moral sekaligus solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
“ICMI harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar yang tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi mampu diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya dalam siaran tertulisnya, Jumat (3/7).
Sementara itu, Ketua Organizing Committee (OC), Imam Budi Utomo, menjelaskan Muswil tahun ini dirancang sebagai forum yang mempertemukan akademisi, pemerintah, tokoh masyarakat, pelaku usaha, hingga komunitas lintas agama untuk membangun sinergi menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Muswil bukan sekadar agenda organisasi, tetapi forum konsolidasi pemikiran yang diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi Jawa Timur maupun Indonesia,” katanya.
Rangkaian Muswil diawali Seminar Nasional pada pukul 08.00–12.00 WIB yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Ketua Umum ICMI Pusat Prof Arief Satria akan membahas tantangan ICMI ke depan sekaligus pentingnya memperkuat budaya riset agar hasil-hasil keilmuan menjadi fondasi kebijakan publik dan pembangunan bangsa.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dijadwalkan memaparkan peluang kemitraan strategis antara ICMI dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, data, dan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Syariah Unair Prof Nafik Hadi Ryandono akan mengulas kembali posisi ICMI sebagai komunitas intelektual yang dituntut menghadirkan solusi, memperkuat etika publik, sekaligus menjadi suluh peradaban di tengah krisis multidimensi.
Seminar juga menghadirkan Ketua Umum Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur Dr Daniel Rohi. Kehadirannya menjadi simbol pentingnya kolaborasi lintas agama dan lintas komunitas intelektual dalam membangun peradaban yang inklusif serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Diskusi akan dipandu Prof Dr Hj Hesti Arimulan, pengurus ICMI Jawa Timur sekaligus Guru Besar Universitas Surabaya (Ubaya).
Seussai seminar, Muswil berlanjut pada agenda organisasi pukul 12.00–17.00 WIB yang meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan ICMI Jawa Timur masa khidmat 2021–2026 serta pemilihan Ketua Umum dan kepengurusan baru periode 2026–2031.
Ketua Umum ICMI Jawa Timur periode 2021–2026, Ulul Albab, bersama Sekretaris Pitono Nugroho akan menyampaikan capaian organisasi selama lima tahun terakhir sebagai landasan bagi kepengurusan berikutnya dalam memperkuat kualitas organisasi dan memperluas kontribusi ICMI bagi pembangunan.
Melalui Muswil ini, ICMI Jawa Timur diharapkan melahirkan kepemimpinan baru yang mampu menjaga marwah organisasi sebagai rumah besar kaum intelektual Muslim sekaligus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas lintas agama.
Lebih dari sekadar memilih ketua baru, Muswil ICMI Jawa Timur 2026 diharapkan menjadi momentum meneguhkan komitmen bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk memuliakan manusia, memperkuat persatuan, dan membangun peradaban yang inklusif, berkeadilan, serta transformatif. (*)






