KabarBaik.co, Malang – Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K), Ph.D. memperkenalkan produk perpaduan teh hijau dan kopi hijau bernama De-Teko.
Sosok yang akrab disapa Prof. Saifur itu menjelaskan bahwa ide De-Teko sudah hadir sejak 12 tahun yang lalu. Semua bermula dari keinginannya menghadirkan pilihan minuman sehat bagi masyarakat, di tengah populernya minuman berbahan dasar teh dan kopi.
“Konsep awal De-Teko adalah mengembangkan minuman fungsional yang disukai masyarakat dapat menjadi obat tambahan selain obat-obatan yang tersedia di pasaran, terutama yang diperuntukkan untuk pasien dengan sindrom metabolik,” papar Prof. Saifur dalam keterangannya, Kamis (15/7).
Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi kesehatan yang terjadi bersamaan, meliputi obesitas sentral (perut buncit), tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol baik (HDL).
“Sindrom metabolik perlu perhatian lebih, karena sekarang penderitanya semakin banyak. Kalau ini dibiarkan, bisa-bisa lebih banyak orang yang menderita penyakit jantung. Saya sebagai dokter jantung ingin masyarakat menjadi semakin sehat dengan mengkonsumsi De-Teko sebanyak dua kali sehari yang telah teruji klinis dapat menurunkan tensi, kegemukan, kolesterol, dan resiko serangan jantung ke depan,” jelasnya.
Keunggulan De-Teko terletak pada kandungan teh hijau dan kopi hijau di dalamnya, yang telah melalui proses dekafeinasi atau penurunan kafein. Proses tersebut dilakukan karena kafein dapat membuat jantung berdebar atau palpitasi. Apabila orang dengan penyakit jantung mengalaminya, maka bisa sesak, serangan jantung, sampai pingsan. Sementara itu, kandungan dan manfaat dari teh hijau dan kopi hijaunya tetap terjaga.
“Kami menerbitkan sedikitnya tiga jurnal internasional setiap tahun. Pengembangan De-Teko sendiri telah memakan waktu dua belas tahun yang berarti sudah menghasilkan tiga puluh enam publikasi ilmiah internasional. Artinya, produk ini sudah terbukti secara ilmiah,” sambungnya.
Saat ini, produk tersebut telah memperoleh izin dari Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga ditargetkan untuk didapatkan. Namun, untuk melakukan hal tersebut, Prof Saifur membutuhkan kolaborasi bersama penghasil teh atau kopi dan juga pihak untuk memasarkannya secara lebih luas.
“Harapannya ada kerja sama, hilirisasi dengan pabrik-pabrik, dan kami juga ingin membuat kedai,” pungkasnya. (*)






