Hadiri Peresmian Istana Gebang di Blitar, Megawati Singgung Kasus Bullying di Lingkungan Sekolah

oleh -267 Dilihat
IMG 20260615 WA0093
Megawati Soekarnoputri saat di Blitar. (Foto: Calvin BT) 

KabarBaik.co, Blitar – Peresmian hasil renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno di Kota Blitar, Senin (15/6), dimanfaatkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menyampaikan pesan sosial. Presiden ke-5 RI itu menyoroti masih maraknya praktik perundungan atau bullying yang terjadi di lingkungan sekolah.

Dalam sambutannya, Megawati mengaku prihatin karena masih banyak anak yang menjadi korban perundungan hanya karena berasal dari keluarga kurang mampu. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan yang menjadi salah satu dasar kehidupan berbangsa belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan.

“Saya sedih, kenapa sekarang banyak anak sekolah yang mengalami perundungan. Ada yang mengatakan jangan berteman dengan dia karena anak miskin, tidak punya apa-apa. Hal-hal seperti itu masih terjadi,” ujarnya.

Megawati menilai perundungan tidak lahir begitu saja, melainkan berawal dari cara pandang yang membedakan manusia berdasarkan status sosial maupun ekonomi. Bahkan, ia menyinggung masih adanya sikap permisif dari sebagian orang tua terhadap perilaku diskriminatif tersebut.

“Ada kecenderungan sekarang orang membiarkan hal-hal seperti itu. Padahal kalau sejak kecil anak diajarkan membeda-bedakan temannya, bagaimana nanti dia bisa menghargai sesama manusia?” katanya.

Menurut Megawati, persoalan bullying tidak bisa dipandang sebagai kenakalan biasa. Dampaknya dapat memengaruhi perkembangan mental anak dan mengikis semangat persatuan yang selama ini menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga mengaitkan persoalan tersebut dengan nilai-nilai Pancasila yang menurutnya sering kali hanya menjadi hafalan tanpa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mempertanyakan sejauh mana masyarakat benar-benar memahami makna sila kemanusiaan.

“Pertanyaan saya, perikemanusiaan itu ada di mana? Apakah hanya seperti tulisan di atas kertas atau benar-benar ada di dalam hati kalian?” tegasnya.

Megawati menjelaskan, alasan dirinya selalu mengajak peserta kegiatan berdiri saat mengucapkan Salam Pancasila bukan sekadar seremonial. Menurutnya, hal itu merupakan pengingat bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang harus dijaga dengan sikap saling menghormati.

“Ini bukan sekadar formalitas. Saya ingin kita semua menyadari bahwa kita berbeda-beda, tetapi tetap satu. Kalau nilai kemanusiaan tidak diajarkan kepada anak-anak kita, lalu siapa yang akan menjaga bangsa ini ke depan?” ujarnya.

Karena itu, Megawati mengajak para orang tua, guru, dan masyarakat untuk lebih aktif menanamkan nilai toleransi, empati, dan kepedulian sosial sejak dini. Ia berharap sekolah dapat menjadi ruang yang aman bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang ekonomi, suku, maupun agama.

“Jangan sampai ada anak yang merasa rendah diri atau dikucilkan hanya karena keadaan keluarganya. Semua anak berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Calvin BT
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.