KabarBaik.co, Surabaya – Di tengah padatnya permukiman dan suhu Kota Surabaya yang kerap terasa menyengat, siapa sangka jamur tiram putih justru tumbuh subur setiap hari. Kuncinya bukan berada di pegunungan yang sejuk, melainkan pada sentuhan teknologi smart farming yang diterapkan Kelompok Tani Elok Mekarsari RW 8.
Dari sebuah rumah jamur sederhana, para anggota kelompok tani memanen jamur tiram putih hampir setiap hari. Hasilnya tak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan setia, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi warga sekaligus membuktikan bahwa pertanian modern tetap bisa berkembang di tengah kawasan perkotaan.
Perjalanan budidaya jamur ini dimulai sejak 2013. Saat itu, Kelompok Tani Elok Mekarsari memperoleh bantuan pembangunan rumah jamur beserta fasilitas pendukung dari Dinas Pertanian Kota Surabaya. Seiring waktu, seluruh proses budidaya hingga pengembangan usaha dijalankan secara mandiri oleh para anggota kelompok.
Ketua Kelompok Tani Elok Mekarsari sekaligus Ketua UMKM Elok Mekarsari RW 8, Astuti atau yang akrab disapa Bu Made, mengatakan jamur tiram putih dipilih karena relatif mudah dibudidayakan. Tanaman ini tidak membutuhkan pupuk maupun pestisida sehingga menghasilkan produk yang lebih alami.
“Jamur tiram merupakan sayuran yang sangat organik. Budidayanya tidak membutuhkan pupuk ataupun obat-obatan. Yang terpenting adalah kondisi ruangan harus lembap dan minim cahaya agar pertumbuhannya maksimal,” ujar Bu Made saat ditemui, Kamis (2/7).
Namun, membudidayakan jamur di Surabaya bukan perkara mudah. Cuaca yang cenderung panas menjadi tantangan utama karena jamur membutuhkan kelembapan udara yang stabil agar dapat tumbuh optimal.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kelompok Tani Elok Mekarsari memanfaatkan sistem pengkabutan otomatis sebagai bagian dari penerapan smart farming. Teknologi ini menjaga kelembapan ruang budidaya tanpa membuat media tanam atau baglog terlalu basah.
“Karena suhu di Surabaya cukup panas, kami menggunakan sistem pengkabutan untuk menjaga kelembapan ruangan. Air tidak boleh mengenai baglog secara langsung karena dapat menyebabkan media tanam membusuk. Pengkabutan hanya berfungsi menjaga kelembapan udara agar jamur tumbuh optimal,” jelasnya.
Berkat teknologi tersebut, panen dapat dilakukan setiap hari dengan produksi rata-rata sekitar 2 kilogram. Meski demikian, hasil itu masih belum mampu mengimbangi tingginya permintaan pasar.
“Permintaan pasar sebenarnya sudah lebih dari 10 kilogram per hari, tetapi produksi kami masih terbatas sehingga belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan konsumen,” kata Bu Made.
Besarnya permintaan juga mendorong kelompok tani untuk tidak hanya menjual jamur dalam kondisi segar. Sebagian hasil panen diolah menjadi berbagai produk siap konsumsi, seperti sempol jamur dan aneka makanan olahan lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Jika hanya dijual dalam bentuk segar, nilai ekonominya belum maksimal. Karena itu sebagian hasil panen kami olah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah, lebih awet disimpan di freezer, sekaligus membuka peluang usaha bagi anggota kelompok,” ungkapnya.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat UMKM berbasis pertanian yang tumbuh di lingkungan RW 8. Tak hanya memperluas pasar, inovasi produk juga membuka kesempatan usaha baru bagi warga sekitar dan meningkatkan pendapatan para anggota kelompok.
Ke depan, Kelompok Tani Elok Mekarsari berkomitmen terus mengembangkan budidaya jamur tiram putih melalui pemanfaatan teknologi serta inovasi produk. Kisah mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan dan tingginya suhu perkotaan bukan penghalang untuk bertani. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, pertanian modern tetap mampu tumbuh, menghadirkan pangan sehat, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat di tengah Kota Surabaya. (*)





