Kutukan Kabupaten Kuansing: Mereka Tak Pernah Belajar dari Warisan Luhur Pacu Jalur

oleh -234 Dilihat
SUDRIMAN AMBY
Suhardiman Amby, bupati Kuansing, Riau, terjaring OTT KPK. (Antara)

KabarBaik.co, Jakarta-  Agustus 2023 adalah musim panas paling riuh dalam sejarah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Di sepanjang Tepian Narosa, Teluk Kuantan, jutaan pasang mata terpesona pada satu objek. Yakni, seorang bocah lelaki yang berdiri elastis di ujung haluan perahu kayu.

Tubuhnya meliuk-liuk lincah, berjoget mengikuti ritme dayung yang membelah arus sungai yang deras. Musik jedag-jedug melatari videonya di TikTok atau media sosial lain. Dalam hitungan hari, “goyang perahu” dari tradisi Pacu Jalur itu meledak menjadi fenomena pop-kultur global.

Megabintang sepak bola, pembalap, atlet Olimpiade, hingga akun resmi FIFA pun ikut meniru selebrasi magis sang bocah. Dunia bersorak untuk Kuansing. Sebuah harmoni sempurna antara nyali, sportivitas, dan keseimbangan absolut.

Namun, lompatlah ke pekan awal Juli 2026 ini. Riuh sorak itu seperti mendadak luluh lantak, berganti senyap yang memalukan.

Beberapa hari lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengetok palu keprihatinan. Bupati Kuansing, Dr H Suhardiman Amby, resmi mengenakan rompi oranye setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait skandal jual-beli jabatan Sekretaris Daerah (Sekda).

Penangkapan Suhardiman bukan sekadar berita kriminal dan hukum biasa. Tapi, sebuah anomali politik yang terbilang mengerikan, sebuah rekor kelam yang sepertinya sulit dicari tandingannya di Republik ini. Suhardiman Amby menjadi bupati keempat secara berturut-turut di Kuansing yang kariernya tamat di tangan penegak hukum.

Kabupaten ini seolah dikutuk oleh syahwat kekuasaan para pemimpinnya sendiri.

Baca Juga: Kuansing Mendunia: Pacu Jalur Menyihir Bintang Olahraga Global

Jika Pacu Jalur adalah warisan turun-temurun yang dijaga dengan rasa bangga, maka korupsi di kursi kekuasaan Kuansing tampaknya telah menjadi “warisan” kursi jabatan yang tak kalah konsistennya.

Kutukan beruntun ini dimulai dari Sukarmis, bupati senior yang memimpin Kuansing selama dua periode (2006–2016). Di masanya, Kuansing membangun megaproyek prestisius bernama Hotel Kuansing. Alih-alih menjadi ikon kemajuan, hotel itu kini mangkrak, menjelma menjadi monumen korupsi bernilai Rp 22 miliar yang mengantar Sukarmis ke balik jeruji besi dengan vonis 12 tahun penjara.

Tongkat estafet beralih ke Mursini (2016–2021). Alih-alih belajar dari pendahulunya, Mursini justru ikut tergulung kasus korupsi anggaran kegiatan di Sekretariat Daerah (Setda) Kuansing dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.

Baca Juga: Rayyan Dikha: Jadi Simbol Baru Budaya dan Diplomasi Lewat Tarian

Pilkada berikutnya melahirkan drama yang lebih getir. Andi Putra, anak kandung dari Sukarmis, terpilih menjadi bupati. Publik sempat berharap darah muda ini membawa perubahan. Tragis, baru beberapa bulan mencicipi kursi empuk kekuasaan, Andi Putra diciduk KPK pada Oktober 2021 karena menerima suap perpanjangan izin HGU perkebunan sawit. Ia divonis 4 tahun penjara.

Sebagai Wakil Bupati saat itu, Suhardiman Amby kemudian naik takhta menjadi Pelaksana Tugas, hingga akhirnya dilantik menjadi Bupati definitif, dan kembali memenangkan Pilkada untuk periode kedua. Suhardiman adalah pria yang berdiri di panggung utama saat Pacu Jalur viral di dunia pada 2023 lalu. Ia yang menyalami para atlet, ia yang membusungkan dada atas nama budaya Kuansing.

Namun tepat pada 1 Juli 2026, perahunya resmi karam. Suhardiman, yang merupakan kader Partai Gerindra itu melengkapi kuartet bupati Kuansing yang hancur karena korupsi.

Skandal yang menjerat Suhardiman kali ini mengungkap fakta yang menggelengkan kepala. Dalam konferensi pers resmi di Gedung Merah Putih, KPK membeberkan adanya pola suap “naik kelas”. Dari Mitsubishi Pajero Sport ke Toyota Land Cruiser.

Menurut Plt Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, praktik lancung ini sudah terpola sejak tahun 2021 saat Suhardiman masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati. “Ini bukan yang pertama dilakukan oleh ZKN (Sekda Zulkarnain, Red)). Pada saat yang bersangkutan menduduki jabatan kadis (Kepala Dinas) juga sempat memberikan sesuatu kepada SA yang saat itu masih Plt Bupati.  ZKN diduga memberikan satu unit mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar senilai Rp 700 juta kepada Plt Bupati Kuansing pada 2021.”

Hubungan transaksional tersebut kembali menemui puncaknya saat proses lelang jabatan Sekda Kuansing bergulir. Kursi birokrasi tertinggi di kabupaten tersebut rupanya harus ditebus dengan nilai yang sangat fantastis. Suhardiman Amby selaku Bupati Kuansing periode 2025-2030 kemudian ‘meminta syarat’ mobil SUV Toyota Land Cruiser 300 GR-S kepada para pihak atau calon yang mengikuti proses seleksi jabatan Sekda Kuansing.

Demi mengunci posisi aman selama lima tahun ke depan, Zulkarnain sebagai calon sekda terpilih menyanggupi mahar mewah tersebut melalui skema licik di bawah meja, melibatkan pihak swasta berinisial ARD untuk menyamarkan aset.

Untuk memenuhi permintaan tersebut Zulkarnain kemudian membeli satu unit mobil SUV Toyota Land Cruiser 300 GR-S seharga Rp 2,05 miliar di sebuah showroom yang berlokasi di Jabodetabek. Pembelian dilakukan secara kredit atau ‘mencicil’ senilai Rp 46,5 juta per bulan, dengan tenor 5 tahun.

Sebuah kompromi jabatan birokrasi yang harus dicicil puluhan juta per bulan, dibayar lunas dengan kemewahan di atas penderitaan rakyat.

Di sinilah letak ironi terbesar yang mengiris hati. Pacu Jalur bukan sekadar lomba mendayung perahu sepanjang 60 meter. Ada ritus filosofis yang sakral. Di atas perahu (jalur), ada pembagian tugas yang menuntut integrasi total. Ada Tukang Onjai di buritan yang menjaga ritme, ada puluhan pendayung yang menguras keringat, dan ada Tukang Tari di ujung haluan yang bertaruh nyawa demi menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik dihantam arus.

Filosofi Pacu Jalur adalah tentang satu komando, sportivitas, kejujuran, dan kebersihan hati. Jika salah satu pendayung egois atau Tukang Tari kehilangan fokus, perahu akan karam seketika.

Masyarakat Kuansing adalah manusia-manusia air yang khatam betul cara menjaga keseimbangan di atas sebilah kayu tipis di tengah arus sungai yang liar. Mereka bisa menyelaraskan puluhan kepala demi satu tujuan di garis finish.

Namun entah mengapa, kedigdayaan filosofis itu menguap begitu menyentuh daratan. Begitu masuk ke dalam gedung pemerintahan yang megah, para “nahkodanya” justru mendayung ke arah yang berlawanan. Mereka sibuk menguras lambung perahu untuk memperkaya diri sendiri, mengabaikan rakyat di bawah yang terus mendayung dalam kemiskinan

Kini, Tepian Narosa kembali bersiap menyambut festival tahunan yang akan datang. Sungai Kuantan akan tetap mengalir, perahu-perahu jalur akan tetap bersolek, dan anak-anak muda akan kembali menari di ujung haluan dengan gagah berani di hadapan dunia.

Tetapi, sorak-sorai penonton di pinggir sungai tak akan lagi sama. Ada kabut yang menggelayut di atas langit Kuansing. Dunia boleh saja terpukau oleh liukan indah Tukang Tari di atas air, namun mereka juga kini tahu bahwa di daratan, sejumlah pemimpinnya tak pernah bisa belajar cara menjaga keseimbangan.

Masyarakat Kuantan Singingi telah membuktikan pada dunia bahwa mereka mampu melestarikan budaya yang luar biasa. Kini, tantangan terbesar mereka bukan lagi mengalahkan lawan di garis finish sungai, melainkan bagaimana menyaring dan menemukan “nahkoda” darat yang tangannya yang bersih untuk memegang kemudi kabupaten ini, tanpa harus menenggelamkannya lagi ke dalam lubang hitam korupsi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.