KabarBaik.co, Surabaya – Kebanggaan bercampur harapan besar menyelimuti keluarga Ghifara Denok Prameswari, pelajar asal Surabaya yang baru saja dinobatkan sebagai Juara Puteri Kebaya Indonesia 2026 dalam ajang pemilihan tingkat nasional yang digelar di Sleman, Yogyakarta, awal Juli 2026. Keberhasilan ini pun membuka jalan bagi Ghifara untuk mewakili Indonesia di ajang internasional di Malaysia dalam waktu dekat.
Di balik kemegahan gelar yang diraih, orang tua Ghifara, Lilik Anani, menceritakan perjuangan panjang yang ditempuh putrinya sejak usia dini. Bersama Anggota Komisi C DPRD Surabaya sekaligus Ketua Harian Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Surabaya, Siti Mariyam, Lilik menyampaikan harapan agar Pemkot Surabaya dan Dinas Pendidikan dapat memberikan perhatian serta dukungan bagi putrinya.
Lilik yang berprofesi sebagai guru TK di Dupak Timur, bersama suaminya yang merupakan guru SD, mengaku selama ini membiayai sendiri seluruh proses pembinaan dan pengembangan bakat putri semata wayangnya.
“Kami hanya berprofesi sebagai guru. Harapan kami kepada Pemkot Surabaya dan Dinas Pendidikan adalah adanya perhatian, baik berupa dukungan maupun bantuan finansial. Selama satu tahun menjabat, putri kami akan menerima banyak undangan dari berbagai daerah yang tentu membutuhkan biaya transportasi dan kebutuhan lainnya,” ujarnya, Rabu (22/7).
Ia berharap dukungan pemerintah dapat menjadi jembatan bagi anak-anak berprestasi dari keluarga sederhana agar potensi mereka tidak terhambat oleh keterbatasan biaya. Terlebih mereka tinggal di kawasan Asemrowo, dekat rel kereta api, dan berharap anak-anak berbakat dari wilayah pinggiran kota juga mendapatkan kesempatan yang sama.
Perjalanan Ghifara menuju puncak prestasi bukanlah hal instan. Sejak masa playgroup, ia sudah dikenalkan pada seni tari di Sanggar Cak Durasim, kemudian memperdalam musik piano, keyboard, dan vokal di Purwacaraka selama empat tahun, sebelum akhirnya menekuni pemodelan, kemampuan berbicara di depan umum, dan bahasa Inggris.
Sementara itu, Ghifara yang kini duduk di kelas VIII SMP Negeri 3 Surabaya mengaku masih tak percaya bisa membawa nama Surabaya dan Jawa Timur menaklukkan panggung nasional.
“Sempat deg-degan, tapi alhamdulillah berhasil menjadi juara pertama,” ungkapnya bangga.
Ia menegaskan ajang ini tidak hanya menilai kecantikan fisik, melainkan pemahaman tentang budaya kebaya, sikap, wawasan, hingga bakat seni. Dalam babak penilaian, kemampuannya memainkan gamelan dan menyinden menjadi nilai tambah yang menonjol.
Untuk menghadapi panggung internasional di Malaysia, Ghifara telah berlatih intensif selama enam bulan terakhir. Ia juga terbiasa membagi waktu antara tugas sekolah dan berbagai kegiatan pengembangan diri, berkat nasihat dan bimbingan orang tuanya.
“Ayah selalu berpesan, jika ingin sukses, terkadang kita harus berani mengorbankan satu hal demi hal yang lebih besar. Dukungan orang tua adalah motivasi terbesar saya. Impian saya adalah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional,” pungkasnya. (*)






