KabarBaik.co, Jember – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember bersiap melakukan transformasi manajemen besar-besaran. Hal ini ditegaskan pasca-penutupan Orientasi Planning, Monitoring, Evaluation, and Reporting (PMER) yang berlangsung selama dua hari dan resmi berakhir pada Sabtu (13/6). Kegiatan ini diproyeksikan menjadi momentum penting untuk mendongkrak kapasitas pelayanan organisasi.
Orientasi intensif ini dimentori oleh dua fasilitator berkompeten, yakni Novita dari PMI Pusat dan Ardip Kepala Markas PMI Kabupaten Bangli, Bali. Selama pelatihan, peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai sistem perencanaan, pengawasan, evaluasi, hingga pelaporan yang transparan dan akuntabel.
Sekretaris PMI Kabupaten Jember, Ghufron Eviyan Efendi, menginstruksikan agar ilmu yang didapat segera diterapkan secara nyata, bukan sekadar menjadi agenda seremonial belaka.
Evaluasi ini berkaca pada komitmen organisasi yang sebelumnya telah mengirimkan dua stafnya, Yuniar Veviana dan Akmal Fauzan, untuk mendalami pelatihan PMER.
“Pengurus berharap setelah pelatihan ini tidak ada lagi kendala dalam hal perencanaan. Aturan dan sistem baru ini berlaku mengikat untuk lingkungan Markas, Unit Donor Darah (UDD), hingga ke level relawan seperti KSR dan Forpis/Forel,” ujar Ghufron dalam arahannya.
Selain aspek administrasi, pengurus PMI Jember juga menyoroti pentingnya revolusi mental dan profesionalisme di internal organisasi. Ghufron mengimbau seluruh staf dan relawan untuk terus mengasah kemampuan diri, memperketat disiplin, serta menyudahi kebiasaan tidak produktif.
“Hentikan kebiasaan bergosip (gibah) atau bermain game saat jam kerja,” tegasnya.
Untuk menggambarkan dinamika kerja yang ideal, Ghufron mengibaratkan organisasi PMI seperti sebuah papan catur. Setiap personel dituntut memahami peran, batasan, serta fungsi masing-masing demi keharmonisan kerja.
“Kita harus paham posisi, layaknya ster dalam catur yang punya fungsi dan jalur jalannya sendiri. Baik di Markas maupun UDD, semua wajib melek tupoksi. Jika sistem pelaporan berjalan rapi, perumusan kebijakan ke depan tidak akan membingungkan,” tambah Ghufron.
PMI Jember juga meminta seluruh divisi bergerak taktis dan menyudahi budaya saling lempar tanggung jawab saat kebijakan baru digulirkan.
Sebagai contoh nyata dalam upaya peningkatan kapasitas, ia menceritakan ketatnya kualifikasi pengiriman petugas untuk pelatihan ambulans, di mana peserta diwajibkan mengantongi sertifikat Pertolongan Pertama (PP) tingkat mahir terlebih dahulu.
Di sisi lain, karut-marut pengelolaan data internal menjadi salah satu poin evaluasi paling tajam dalam penutupan orientasi ini. Pengurus mendesak adanya reformasi total agar database organisasi menjadi lebih valid dan terintegrasi.
“Saat ini, sistem data kita masih lemah. Ke depan, kita wajib memiliki database yang valid dan siap dioptimalkan. Jika sistem data rapi, siapapun yang memimpin organisasi ini nanti, datanya akan tetap terjaga dan bisa terus digunakan demi kemajuan PMI,” tutup Ghufron.
Melalui implementasi sistem PMER ini, PMI Kabupaten Jember berkomitmen untuk bertransformasi menjadi lembaga kemanusiaan yang bergerak lebih cepat, transparan, serta sepenuhnya berbasis data.(*)








