KabarBaik.co, Sidoarjo – Jalur kereta api yang berdampingan dengan tanggul Lumpur Lapindo, Sidoarjo menghadapi persoalan serius. Penurunan permukaan tanah yang terus terjadi membuat stabilitas trek berada dalam kondisi kritis dan tak lagi memungkinkan terus ditangani dengan pola peninggian seperti sebelumnya.
Dalam kurun sekitar 20 tahun, posisi jalur kereta api di kawasan tersebut telah ditinggikan hampir tiga meter dari kondisi awal. Namun, perubahan kontur tanah masih terus terjadi dan menjadi tantangan dalam menjaga keandalan lintasan.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengungkapkan, penurunan permukaan tanah tercatat cukup signifikan hanya dalam kurun empat tahun terakhir.
“Antara tahun 2022 sampai 2026, terjadi penurunan 1 meter dari permukaan laut. Melihat kondisi tersebut, ini membuktikan bahwa stabilitas trek ini sudah dalam kondisi yang kritis. Sehingga, untuk melakukan peninggian, perbaikan, atau pengembangan infrastruktur jalur kereta api di titik tersebut sudah tidak memungkinkan,” ujarnya, Sabtu (11/7).
Selama ini, kondisi lintasan dijaga melalui sejumlah perawatan rutin. Mulai dari peninggian trek, pemecokan berkala menggunakan sarana Multi Tie Tamper (MTT), hingga penambahan batu balas untuk mempertahankan kestabilan jalur.
Namun, kondisi eksisting membuat penanganan jalur KA Lumpur Lapindo membutuhkan skenario baru. Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mulai membagi langkah penanganan dalam jangka pendek, menengah dan panjang.
Relokasi jalur menjadi salah satu opsi yang telah masuk dalam perencanaan untuk penanganan jangka menengah dan panjang. Rute baru diproyeksikan melewati Sidoarjo menuju Tulangan hingga Gununggangsir.
“Untuk jangka menengah dan panjang, kami memang sudah ada perencanaan terkait relokasi melewati Sidoarjo, lalu ke Tulangan, dan Gununggangsir. Tetapi untuk jangka pendek, diperlukan konsolidasi dan sinergi penanganan antara DJKA, PT KAI, dan Pemerintah Daerah setempat,” tambah Denny.
Perhatian kini juga diarahkan pada risiko kondisi darurat, khususnya banjir saat musim hujan. DJKA menyiapkan penyusunan SOP atau Emergency Plan baru dengan mempertimbangkan kondisi terkini jalur dan kawasan di sekitarnya.
SOP tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama dalam mempercepat respons ketika muncul kondisi kritis. Sinergi DJKA, PT KAI dan pemerintah daerah dinilai penting untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.
“Dalam tahun ini harus selesai. Mengingat dalam beberapa bulan ke depan musim hujan sudah datang, kita harus siap prepare for the worst, khususnya untuk mengantisipasi banjir. Kita tidak tahu kapasitas pompa bisa bekerja seberapa besar manakala kondisi banjir, nobody knows,” pungkasnya.(*)






