KabarBaik.co, Surabaya – Keputusan Pemkot Surabaya melakukan mutasi terhadap Lurah Tambak Wedi, Kenjeran, Muhammad Yusufian, menjadi sorotan warga. Mutasi yang diterima Yusufian, yang kini menjabat sebagai Kasi di Kelurahan Kalisari, Mulyorejo, ini dinilai berkaitan dengan hasil sidak Walikota Surabaya Eri Cahyadi yang diduga menemukan pungli di Sentral Wisata Kuliner (SWK) Tambak Wedi.
Ketua RT 06 RW 01 Kelurahan Tambak Wedi, Rudy, mengaku sangat menyayangkan keputusan mutasi tersebut. Menurutnya, Lurah yang akrab disapa Pak Fian ini dikenal sebagai sosok yang baik, dekat dengan masyarakat, dan memiliki banyak inovasi.
“Kami sangat menyayangkan, karena beliau ini kan sosok yang dikenal baik dan punya banyak inovasi. Padahal masa jabatannya belum genap setahun, sudah kena imbas masalah SWK yang dianggap amburadul,” ujar Rudy kepada awak media, Jumat (10/7).
Rudy menuturkan, saat ini Fian sebenarnya baru mulai menata komunikasi dan pendekatan dengan warga. Salah satu inovasi yang dinilai sangat positif dan berhasil menjaring aspirasi adalah program Kopasga (Ngopi Bareng Warga).
“Beliau kan baru ingin menata komunikasi dengan warga. Ada terobosan bagus yaitu Kopasga, ngopi bareng warga rutin setiap bulan sekali di tiap RW, bahkan sampai malam hari demi menampung semua aspirasi masyarakat. Ini kan bagus, sayang sekali harus terhenti karena mutasi,” tambahnya.
Diketahui, dalam sidak yang dilakukan Walikota Eri Cahyadi, pihaknya menilai bahwa kelurahan dinilai belum maksimal dalam mengelola dan membina para pedagang di lokasi tersebut, hingga ditemukan indikasi pungutan liar.
Namun, Rudy menilai ada hal yang perlu dikaji lebih dalam terkait pengelolaan SWK tersebut. Ia mempertanyakan mengapa pengelolaan tidak dilimpahkan langsung ke kelurahan, melainkan masih melalui paguyuban.
“Seharusnya juga ditelusuri, kenapa SWK ini tidak dilimpahkan pengelolaannya ke kelurahan saja, tidak usah lewat paguyuban? Mungkin kalau ditanyakan ke beliau atau lurah yang lama, bisa lebih jelas masalahnya di mana,” pungkasnya. (*)






