KabarBaik.co, Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember terus memacu program pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana (Destana-Kelana). Langkah strategis ini diambil sebagai prioritas utama dalam mendongkrak kesiapsiagaan serta sistem mitigasi berbasis masyarakat guna menghadapi potensi ancaman bencana di wilayah setempat.
Terbaru, Destana Kelurahan Sempusari di Kecamatan Kaliwates resmi dikukuhkan pada Kamis (9/7). Agenda ini turut dihadiri oleh Tenaga Ahli BPBD Provinsi Jawa Timur Bige Agus Wahjuono, perwakilan Komisi E DPRD Jatim Hadinudin, Lurah Sempusari, serta jajaran Muspika Kecamatan Kaliwates.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo, memaparkan bahwa secara administratif Jember memiliki 248 desa/kelurahan (terdiri dari 226 desa dan 22 kelurahan). Hingga saat ini, sebanyak 178 Destana-Kelana telah berhasil diaktifkan.
“Masih ada 70 desa dan kelurahan yang struktur kepengurusannya belum terbentuk. Target kami, pada akhir September mendatang, seluruh 248 desa dan kelurahan di Jember sudah 100 persen memiliki kepengurusan Destana-Kelana,” tegas Edy.
Edy juga memberikan apresiasi khusus untuk tingkat kelurahan. Dari total 22 kelurahan yang ada, 14 di antaranya kini sudah menyandang status Destana. Bahkan, seluruh kelurahan di wilayah Kecamatan Kaliwates dilaporkan telah rampung membentuk struktur ketangguhan bencana ini.
Tak berhenti di level akar rumput, BPBD Jember juga tengah bersiap menginisiasi program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) mulai akhir Desember 2026. Program ini merujuk pada instruksi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Berbeda dengan Destana-Kelana yang diinisiasi oleh BNPB untuk tingkat tapak, Kencana dirancang untuk menyinergikan kesiapan mitigasi pada level birokrasi kecamatan. Setelah seluruh target 248 desa/kelurahan terpenuhi, BPBD Jember bakal menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) secara masif.
Muara dari integrasi total ini akan dipamerkan pada Hari Kesiapsiagaan Bencana RI tahun 2027 melalui apel besar di Alun-Alun Jember.
“Kita akan menggelar apel besar untuk menunjukkan seluruh potensi penanganan bencana yang kita miliki, baik personel, peralatan, hingga keahlian teknis,” imbuhnya.
Percepatan ini dinilai sangat mendesak mengingat tingginya frekuensi peristiwa alam di Jember. Di tengah keterbatasan personel internal BPBD Jember yang hanya berjumlah sekitar 60 orang, kehadiran relawan lokal dan pengurus Destana menjadi tumpuan utama sebagai garda terdepan.
Mereka sangat krusial dalam memangkas waktu respons (respons time) di wilayah Jember yang mencakup area luas hingga 3.500 kilometer persegi.
“Jika ada bencana di Kencong, Tim Reaksi Cepat kami butuh waktu 1,5 jam dari mako untuk tiba di lokasi. Di sinilah peran vital Destana dan relawan lokal untuk melakukan penanganan kedaruratan awal secara cepat,” jelas Edy.
Sebagai bentuk dukungan kemandirian posko di tingkat lokal, BPBD Jember terus menyalurkan berbagai stimulan aset penunjang operasi tanggap darurat, seperti mesin gergaji (chainsaw) hingga peralatan evakuasi.
Memanfaatkan momentum musim kemarau saat intensitas bencana hidrometeorologi menurun, BPBD Jember kini gencar turun ke lapangan guna memasifkan sosialisasi, edukasi mitigasi, serta pelatihan kebencanaan berkala bagi masyarakat.(*)






