KabarBaik.co – Sejumlah poster yang bertuliskan penolakan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) bermunculan di poros jalan wilayah Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Terutama di jalan raya menuju KEK di Desa Klampok, Kecamatan Singosari.
Salah satu tulisan yang terpampang di poster spanduk panjang tersebut yaitu KEK=Kapitalisme Eksploitasi Kawasan, Singosari kudu diselametno teko penjajah (Singosari harus diselamatkan dari penjajah). Selain poster itu, masih banyak lagi poster-poster lain sebagai wujud penolakan warga.
Salah satu warga Kecamatan Singosari, Budayawan, Ki Ardi Purbo Antono mengatakan, aksi protes yang dilakukan warga merupakan luapan kekesalan warga yang sudah ditahan selama bertahun-tahun.
“Jadi, program kerakyatan dengan tujuan kemakmuran jangan menggunakan jasa makelar intelektual yang mengakibatkan tatanan carut marut, negara bangkrut, rakyat semrawut,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/5).
Ki Ardi mengungkapkan, yang terjadi saat ini merupakan buah dari kebijakan KEK yang dirancang. Dijalankan tanpa melibatkan warga dan memperhatikan kearifan lokal. “Jika KEK dikaji ulang, ya dibubarkan, sebab keberadaan KEK ini terlihat stagnan dan tidak jelas,” ujarnya.
Menurut Ki Ardi, sejarah Singosari sebagai tanah sakral. Kehadiran KEK tidak mengembalikan spirit kejayaan masa lalu dan tidak menyentuk nilai adat tradisi dan kebudayaan. “Dari kondisi saat ini, dalam waktu dekat, warga akan menggelar aksi dan turun ke jalan secara massif untuk menutup akses ke KEK,” tegasnya.
Resmi berdiri sejak 2019 silam, tetapi aktivitas di KEK Singhasari dinyatakan resmi beroperasi sejak 21 November 2022. KEK Singhasari yang terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, memiliki luas 120,3 hektare dan difokuskan sebagai pusat pariwisata dan pengembangan teknologi. (*)






