Waspada Tautan Palsu dan Telepon Penipu, Warga Jember Wajib Tahu 10 Modus Kuras Rekening yang Marak Terjadi

oleh -338 Dilihat
Kantor OJK Jember. (Foto: Ist)
Kantor OJK Jember. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Jember – Modernisasi sistem keuangan digital seperti pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan kepraktisan, namun di sisi lain memicu lonjakan kejahatan siber yang kian masif dan canggih. Kurangnya pemahaman digital masyarakat berpadu dengan celah teknologi kini menjadi sasaran empuk para pelaku kriminal finansial.

Bukan lagi lewat aksi konvensional, penipuan era baru ini bergerak senyap memanfaatkan gawai, aplikasi, platform sosial media, hingga menyeberang ke jaringan kripto internasional. Dampaknya tak main-main, aset senilai ratusan miliar rupiah bisa lenyap tak bersisa hanya dalam hitungan menit.

Merespons situasi kritis ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kabupaten Jember bergerak cepat memperluas edukasi literasi keuangan kepada publik. OJK juga mendorong masyarakat untuk aktif menggunakan layanan pengaduan yang terintegrasi dengan Indonesia Anti Scam Centre (IASC) demi mempercepat pemulihan dan penanganan kasus.

Langkah strategis tersebut dibeberkan langsung oleh Kepala OJK Jember Aris Budiman, dalam agenda media gathering bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jember di Aula Kantor OJK Jember, Jumat (19/6).

“Saat ini, setidaknya ada 10 modus operandi fraud digital yang paling sering dipakai pelaku untuk menguras isi rekening korban,” ungkap Aris.

Menurut Aris, salah satu taktik yang paling jamak ditemukan adalah phishing. Polanya beragam, mulai dari undangan grup fiktif di media sosial, penyebaran tautan (link) mencurigakan dan telepon penipuan yang mencatut nama instansi atau pihak tertentu.

Para pelaku memanfaatkan kelengahan korban untuk membocorkan data sensitif, seperti nomor PIN, kode OTP, hingga informasi perbankan rahasia lainnya.

Oleh karena itu, Aris menekankan pentingnya kecepatan melapor begitu seseorang sadar telah menjadi korban penipuan. Kecepatan laporan sangat menentukan peluang penyelamatan dana.

“Begitu sadar jadi korban, langsung lapor. Kalau responsnya cepat, transaksi bisa segera diblokir dan sisa uang korban berpotensi diselamatkan. Kalau telat, jalurnya panjang; uang akan dipecah ke berbagai rekening penampung, lalu dilarikan ke dompet kripto luar negeri yang jalurnya sangat sulit dilacak,” bebernya.

Aris menegaskan bahwa benteng pertahanan terkuat dari kejahatan siber adalah skeptisisme dan kewaspadaan masyarakat sendiri. Publik diminta tidak menelan mentah-mentah informasi yang mengatasnamakan bank, otoritas keuangan, atau lembaga pemerintah.

Modus lama yang dibungkus hadiah, undian gratis, atau promosi menggiurkan lewat tautan tertentu dinilai masih sering memakan korban karena masyarakat mudah tergiur keuntungan instan.

“Kita harus saling mengingatkan. Jika ada pesan atau telepon mencurigakan dari pihak yang mengaku sebagai bank, abaikan dulu. Langsung konfirmasi ke call center resmi instansi terkait. Intinya, jangan mudah percaya pada iming-iming hadiah cepat,” tutup Aris.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.