Dinilai Jadi Salah Satu Pemicu Macet, Inaportnet Tidak Cocok Diterapkan di Lintasan Ketapang-Gilimanuk

oleh -72 Dilihat
IMG 20260712 WA0035
Bambang Haryo bersama stakeholder pelabuhan saat meninjau dermaha di Pelabuhan Ketapang. (Foto: Muhammad Ikhwan) 

KabarBaik.co, Banyuwangi – Sistem informasi Indonesian National Single Window for Port Community System (Inaportnet) dinilai kurang tepat diterapkan di lintasan penyeberangan pendek, seperti di Ketapang-Gilimanuk. Alih-alih mempercepat layanan, sistem digital tersebut disebut justru jadi salah satu biang kemacetan.

Hal itu mengemuka dalam rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar di Kantor ASDP Pelabuhan Ketapang, yang dihadiri anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono bersama sejumlah pemangku kepentingan transportasi.

Inaportnet merupakan layanan tunggal berbasis elektronik yang dikelola Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengintegrasikan berbagai layanan kepelabuhanan, mulai dari perizinan kapal, pelaporan muatan, hingga penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Sistem tersebut dirancang untuk mempercepat, mengefisienkan, dan meningkatkan transparansi layanan pelabuhan.

Namun, menurut Bambang, karakteristik lintasan Ketapang-Gilimanuk berbeda dengan pelabuhan niaga. Waktu sandar kapal yang sangat singkat membuat proses penginputan data secara digital tidak dapat berjalan optimal. “Lama waktu untuk mengakses sistem digital itu tidak sinkron dengan waktu sandar kapal yang sangat singkat,” kata Bambang.

Menurut Bambang, digitalisasi yang digunakan untuk mendata muatan secara real-time justru menjadi kendala di lapangan. Petugas kesulitan menyelesaikan proses input data sebelum kapal kembali berlayar. “Sistem yang harus menyederhanakan, justru semakin memperlambat,” tegas dia.

Jika dipaksakan, lanjut dia, operasional kapal akan terganggu dan antrean kendaraan berpotensi semakin panjang. Karena itu, proses input data manifest sementara dikembalikan menggunakan mekanisme manual. Sistem seperti Inaportnet belum siap diterapkan pada lintasan penyeberangan jarak pendek dengan waktu tempuh kurang dari satu jam.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan disebabkan minimnya komitmen operator maupun pemerintah, melainkan karena keterbatasan teknis yang belum mampu menyesuaikan ritme operasional kapal. “Daripada memicu kemacetan parah di pelabuhan atau malah menghasilkan input data yang tidak riil karena dikejar waktu sandar, maka langkah manual menjadi pilihan terbaik saat ini untuk mengurai kendala di lapangan,” tegasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.