Hilirisasi Garam Kabupaten Malang Tunggu Restu Pemerintah Pusat, Nilai Jual Diproyeksi Naik Hingga Tiga Kali Lipat

oleh -767 Dilihat
IMG 20260629 WA0039
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring menunjukkan garam yang diproduksinya. (Foto: Istimewa)

KabarBaik.co, Malang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang optimistis komoditas garam dari kawasan pesisir selatan memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar melalui program hilirisasi. Namun, hingga kini realisasi program tersebut masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring mengatakan, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar Kabupaten Malang masuk dalam program hilirisasi garam nasional.

“Untuk hilirisasi garam sampai sekarang ini kami masih terus berkomunikasi, karena belum ada kepastian program hilirisasi garam untuk Kabupaten Malang dari pemerintah pusat,” ujarnya, Senin (29/6).

Menurut Victor, hilirisasi akan memberikan nilai tambah yang signifikan karena garam tidak lagi dipasarkan dalam bentuk garam krosok, melainkan diolah menjadi garam konsumsi maupun bahan baku berbagai industri, seperti makanan dan minuman, farmasi, hingga produk kosmetik.

Ia menjelaskan, saat ini harga garam krosok di tingkat petambak masih berkisar Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram. Apabila telah melalui proses pengolahan menjadi garam konsumsi, nilai jualnya dapat meningkat menjadi sedikitnya Rp 6.000 per kilogram. Bahkan, harga tersebut berpotensi lebih tinggi lantaran garam yang diproduksi menggunakan sistem tunnel di Kabupaten Malang masuk dalam kategori kualitas K1.

“Kalau dalam bentuk garam krosok masih dipasarkan dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kilogram, sedangkan garam konsumsi yang bahan bakunya dari garam krosok minimal Rp6.000 per kilogram, bahkan bisa lebih karena garam dari tunnel masuk kategori K1,” jelasnya.

Sebagai bentuk kesiapan, Pemkab Malang telah mengusulkan Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, sebagai lokasi pelaksanaan proyek hilirisasi. Kawasan tersebut dipilih karena menjadi sentra produksi garam terbesar di Kabupaten Malang dengan metode tunnel yang menghasilkan garam berkualitas tinggi.

Data Dinas Perikanan Kabupaten Malang mencatat produksi garam krosok di Pantai Modangan, Desa Sumberoto, mencapai 30.150 kilogram hingga semester pertama 2026. Jumlah itu menjadi penyumbang terbesar dibanding sentra produksi lainnya, yakni Pantai Ngantep di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, yang menghasilkan 3.200 kilogram, serta Pantai Perawan di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, dengan produksi 1.250 kilogram.

Secara keseluruhan, Dinas Perikanan menargetkan produksi garam krosok Kabupaten Malang pada 2026 mencapai 60 ribu kilogram.

Sementara itu, pemasaran garam produksi Kabupaten Malang saat ini masih didominasi untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan garam di Kabupaten Tulungagung. Adapun pasar lokal lebih banyak menyerap garam untuk kebutuhan peternakan dan pengolahan ikan.

Melihat besarnya potensi peningkatan nilai ekonomi tersebut, Pemkab Malang berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian terkait program hilirisasi. Program itu dinilai tidak hanya mampu meningkatkan harga jual garam, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri berbasis garam serta meningkatkan kesejahteraan para petambak di pesisir selatan Kabupaten Malang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.