KabarBaik.co, Sidoarjo – Banjir rob yang rutin menerjang kawasan pesisir Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Sawohan 2 dan SMPN Satu Atap Buduran harus menyesuaikan kondisi air laut setiap harinya.
Tidak seperti sekolah pada umumnya, berlangsung atau tidaknya pembelajaran di sekolah tersebut sangat bergantung pada kondisi rob. Selama air laut belum memasuki ruang kelas, proses belajar mengajar tetap berjalan normal.
Ari Kurniawan Kepala SDN Sawohan 2 dan juga merupakan kepala SMPN Satu Atap Buduran, menjelaskan saat ini banjir rob semakin sulit diprediksi. Kondisinya berbeda dengan beberapa tahun lalu yang masih memiliki pola waktu tertentu.
“Kalau sekarang banjir rob memang tidak bisa diprediksi lagi seperti dulu. Kondisinya sudah berbeda, jadi kami harus menyesuaikan dengan keadaan di lapangan,” kata Ari, Sabtu (18/7).
Menurutnya, pihak sekolah selalu memantau kondisi air laut. Ketika genangan mulai masuk ke dalam ruang kelas, pembelajaran langsung dihentikan dan seluruh siswa dipulangkan demi alasan keselamatan.
“Kami tetap belajar sebelum air masuk ke kelas. Kalau air sudah masuk, kegiatan belajar kami hentikan dan anak-anak dipulangkan,” ujarnya.
Meski kerap terganggu rob, sekolah tetap berupaya memenuhi target pembelajaran sesuai kurikulum nasional. Berbagai penyesuaian dilakukan agar materi pelajaran tidak tertinggal.
Salah satu caranya dengan membuat jam belajar lebih fleksibel. Guru dapat mempercepat penyampaian materi atau menggabungkan beberapa materi pembelajaran dalam satu pertemuan.
“Materinya tetap sama. Kadang waktunya kami percepat atau beberapa materi kami gabungkan supaya target pembelajaran tetap tercapai,” ucapnya.
Saat ini terdapat 48 siswa yang menempuh pendidikan di SDN Sawohan 2 dan SMPN Satu Atap Buduran. Seluruh siswa berasal dari kawasan pesisir yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan banjir rob.
Bahkan, sekitar empat hingga lima siswa SMP berasal dari Desa Gebang. Mereka harus menyeberangi sungai menggunakan sampan setiap hari untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah tersebut.
“Ada sekitar empat sampai lima anak dari Desa Gebang yang setiap hari naik sampan karena sekolah kami yang paling dekat dari tempat tinggal mereka,” kata Ari.
Di tengah ancaman rob yang datang sewaktu-waktu, semangat belajar para siswa tetap tinggi. Kondisi itulah yang menjadi motivasi para guru untuk terus menjalankan kegiatan belajar mengajar dan memastikan seluruh siswa tetap mendapatkan hak pendidikan mereka.(*)






