Ketika Knicks Juara, Justru Teringat Surabaya

oleh -188 Dilihat
HUD SKETSA

OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)

Ketika peluit akhir berbunyi dan para pemain New York Knicks berhamburan ke lapangan, dunia melihat satu hal yang sama. Penantian 53 tahun akhirnya berakhir.

Media-media Amerika segera menulis tentang sejarah. Tentang gelar pertama sejak 1973. Tentang parade kemenangan yang akan memenuhi jalanan New York. Tentang para legenda yang akhirnya bisa tersenyum lega.

Tetapi dari Surabaya, ada cara lain untuk melihat momen itu. Karena ketika Knicks juara, saya justru teringat Persebaya.

Bukan karena basket dan sepak bola sama. Bukan pula karena New York dan Surabaya memiliki ukuran kota yang sebanding. Melainkan karena ada sesuatu yang lebih mendasar. Hubungan antara sebuah kota dan klub yang dicintainya.

Hubungan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan trofi.

Banyak klub besar memiliki penggemar. Namun hanya sedikit yang benar-benar menjadi identitas kota.

Knicks adalah salah satunya.

Di New York, Knicks bukan sekadar tim basket. Mereka adalah bagian dari cara warga kota memandang diri mereka sendiri.

Keras kepala.

Berisik.

Penuh percaya diri.

Kadang menjengkelkan.

Tetapi tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa mereka adalah pusat dunia. Karakter yang melekat pada New York juga melekat pada Knicks.

Dan ketika memikirkan hubungan seperti itu, sulit untuk tidak memikirkan Persebaya Surabaya.

Di Surabaya, Persebaya bukan hanya klub sepak bola yang bermain setiap akhir pekan.  Green Force adalah bagian dari identitas kota. Seperti logat Suroboyoan. Seperti semangat arek-arek Surabaya. Seperti kebiasaan mengatakan sesuatu apa adanya tanpa terlalu banyak basa-basi.

Orang bisa pindah pekerjaan. Pindah rumah. Bahkan pindah kota. Tetapi banyak orang Surabaya tidak pernah benar-benar pindah dari Persebaya.

Yang menarik, hubungan semacam ini justru paling terlihat ketika klub sedang tidak juara.

Mencintai tim yang selalu menang bukanlah hal yang sulit. Yang sulit adalah tetap datang ketika kemenangan tidak kunjung tiba.

Selama lebih dari lima dekade, generasi demi generasi tumbuh tanpa pernah melihat Knicks menjadi juara NBA. Ada anak-anak yang mendengar cerita tentang kejayaan masa lalu dari ayah mereka.

Lalu tumbuh dewasa.

Lalu menjadi ayah.

Dan masih juga belum melihat Knicks juara.

Namun mereka tetap datang ke arena. Tetap membeli tiket. Tetap berharap.

Bukankah itu terdengar familiar?

Dalam berbagai fase sejarahnya, Persebaya juga pernah mengalami masa-masa ketika mencintai klub ini lebih terasa sebagai ujian kesetiaan daripada perayaan kemenangan.

Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Karena bagi banyak suporter, klub bukan sesuatu yang dipilih berdasarkan prestasi terkini. Klub adalah rumah. Dan orang tidak meninggalkan rumah hanya karena atapnya sedang bocor.

Ada satu kesamaan lain antara New York dan Surabaya yang jarang dibahas. Keduanya adalah kota yang memiliki kebanggaan besar terhadap dirinya sendiri.

Warga New York selalu merasa kota mereka berbeda dari kota-kota lain di Amerika. Warga Surabaya sering merasa kota mereka berbeda dari kota-kota lain di Indonesia.

Bukan lebih baik.

Tetapi berbeda.

Lebih keras.

Lebih lugas.

Lebih berani.

Ada mentalitas “kami akan melakukannya dengan cara kami sendiri.”

Mentalitas seperti itu hidup di tribun. Hidup dalam lagu-lagu suporter. Hidup dalam cara sebuah kota membela klubnya bahkan ketika dunia luar tidak memahami alasannya.

Karena itu, gelar Knicks sesungguhnya bukan hanya tentang basket. Ini adalah cerita tentang kesetiaan yang akhirnya mendapatkan balasannya. Tentang orang-orang yang bertahan cukup lama untuk melihat harapan mereka menjadi kenyataan.

Tentang generasi yang selama puluhan tahun hanya mewarisi cerita, lalu akhirnya bisa mewariskan kenangan.

Dan mungkin itulah alasan mengapa kisah ini terasa dekat bagi banyak penggemar olahraga di Indonesia.

Kita hidup di negara yang memahami arti menunggu. Menunggu tim nasional memenuhi potensinya. Menunggu klub kesayangan kembali berjaya. Menunggu musim ketika semua pengorbanan terasa layak.

Kita memahami bahwa olahraga tidak selalu tentang menang. Kadang-kadang olahraga adalah tentang tetap percaya.

Maka ketika ribuan orang memenuhi jalanan New York untuk merayakan Knicks, mungkin sebagian dari kita di Surabaya bisa memahami perasaan mereka lebih baik daripada yang kita kira.

Karena di balik perbedaan bahasa, negara, dan cabang olahraga, ada satu emosi yang sama. Perasaan ketika sebuah klub yang selama ini menjadi bagian dari identitas kota akhirnya memberi alasan untuk berpesta.

Dan pada malam itu, jarak antara Madison Square Garden dan Gelora Bung Tomo terasa tidak terlalu jauh.

Sebab dua kota yang berbeda itu sedang merayakan hal yang sama. Bukan sekadar sebuah gelar. Melainkan keyakinan bahwa kesetiaan, seberapa lama pun diuji, pada akhirnya tetap memiliki makna.

Mungkin itulah mengapa kisah Knicks terasa begitu dekat. Karena pada akhirnya, olahraga selalu tentang harapan. Tentang keyakinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentang kesetiaan yang bertahan bahkan ketika trofi tak kunjung datang.

Ketika warga New York akhirnya bisa merayakan gelar yang mereka tunggu selama 53 tahun, mereka mengingatkan kita bahwa tidak ada penantian yang terlalu panjang bagi mereka yang tetap percaya.

Dan dari Surabaya, kita hanya bisa ikut tersenyum melihat pesta itu, sambil menyimpan harapan kita sendiri. Harapan bahwa suatu hari nanti, giliran kota ini yang bersorak.

Harapan bahwa pada 18 Juni 2027, tepat saat usia Persebaya menginjak 100 tahun, Bajol Ijo dapat mempersembahkan hadiah terindah bagi kota dan seluruh Bonek-Bonita di mana pun berada: gelar juara yang dirayakan bersama dalam satu abad perjalanan yang penuh cerita.

Sebab sejarah telah mengajarkan satu hal. Mereka yang tetap bertahan di saat susah akan merasakan kebahagiaan yang jauh lebih dalam ketika kemenangan akhirnya datang.

Dan seperti yang ditunjukkan Knicks kepada dunia, kesetiaan yang terus dijaga tidak pernah sia-sia. Kadang ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menemukan puncak kebahagiaannya.

Semoga ketika seratus tahun itu tiba, Surabaya juga mendapat malam yang sama seperti New York.

Malam ketika sebuah kota bernyanyi tanpa henti.

Malam ketika air mata dan tawa bercampur menjadi satu.

Malam ketika penantian panjang akhirnya menemukan ujungnya.

Aamiin. Wani!

*) M. SHOLAHUDDIN, pekerja di Kota Surabaya, Jawa Timur

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.