KabarBaik.co, Malang – Ubi jalar memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat pengganti beras sekaligus pangan bergizi. Selain kaya serat, vitamin, dan mineral, komoditas lokal ini juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan bernilai tambah. Namun, tingkat konsumsi ubi jalar di Kota Malang hingga kini masih tergolong rendah.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menunjukkan konsumsi ubi jalar masyarakat baru mencapai sekitar 6 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya pemerintah mewujudkan diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang Elfiatur Roikhah mengatakan hasil survei yang dilakukan tahun lalu menunjukkan masyarakat masih menjadikan beras sebagai sumber karbohidrat utama.
“Potensinya sebenarnya sangat besar. Tetapi berdasarkan survei kami tahun lalu, tingkat konsumsi ubi jalar di Kota Malang baru mencapai sekitar 6 persen,” ujar Roikhah, Senin (6/7).
Menurut Elfiatur, rendahnya konsumsi pangan lokal juga berdampak pada capaian Pola Pangan Harapan (PPH). Pola konsumsi masyarakat dinilai belum ideal karena masih didominasi satu jenis bahan pangan, yakni beras.
Sebagai langkah memperluas konsumsi pangan lokal, Pemkot Malang menjalankan implementasi Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Dalam program tersebut, ubi jalar bersama labu kuning diprioritaskan sebagai alternatif pangan yang mudah dibudidayakan dan memiliki kandungan gizi tinggi.
Pengembangan dilakukan tidak hanya pada sisi konsumsi, tetapi juga produksi. Sejak 2024, Dispangtan telah menyalurkan bantuan bibit dan sarana produksi kepada 115 kelompok urban farming di 57 kelurahan. Budidaya dilakukan menggunakan media tanam karung agar dapat diterapkan di kawasan perkotaan yang memiliki lahan terbatas.
Program tersebut juga didukung kerja sama dengan Universitas Brawijaya melalui pengembangan Varietas Brawijaya. Hasil monitoring menunjukkan satu karung media tanam mampu menghasilkan sekitar 100 umbi ubi jalar dengan bobot panen mencapai 10 kilogram dalam waktu sekitar tiga bulan.
Meski hasil panennya cukup menjanjikan, keberlanjutan budi daya masih menjadi perhatian. Sebagian kelompok urban farming belum melakukan pembibitan ulang setelah panen sehingga produksi belum berlangsung secara berkesinambungan.
Di sisi hilir, Dispangtan juga terus mengedukasi masyarakat agar semakin tertarik mengonsumsi pangan lokal. Sebanyak 640 peserta dari berbagai kelurahan telah mengikuti Pelatihan Pangan Olahan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk mengolah ubi jalar dan labu kuning menjadi berbagai produk seperti mi, roti, hingga makanan olahan lainnya.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan komoditas lokal seperti ubi jalar, labu kuning, singkong, dan pisang memiliki kandungan nutrisi yang baik sekaligus berpotensi meningkatkan nilai ekonomi masyarakat apabila diolah secara kreatif.
“Di sekitar kita tersedia banyak sumber pangan lokal yang kaya nutrisi. Ubi jalar, labu kuning, singkong hingga pisang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pangan sehat, aman, dan bernilai tambah,” jelasnya.
Bahkan, roti tawar berbahan ubi jalar dan labu kuning kini telah dimanfaatkan sebagai salah satu menu dalam Program Makan Bergizi melalui distribusi ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Berdasarkan petunjuk teknis Badan Gizi Nasional, setiap minggu memang harus ada menu berbahan pangan lokal, salah satunya disajikan dalam bentuk roti tawar,” ujar Slamet.
Melalui penguatan budidaya, inovasi produk olahan, dan edukasi kepada masyarakat, Pemerintah Kota Malang berharap konsumsi ubi jalar terus meningkat sehingga pola makan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dapat terwujud, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan memanfaatkan potensi pangan lokal. (*)






