KabarBaik.co, Surabaya – Insiden kericuhan yang terjadi saat konser Denny Caknan di Surabaya Expo Center atau kawasan Eks Hi-Tech Mall/THR, Minggu (5/7) malam, tak hanya menyisakan korban luka, namun juga memicu polemik terkait pelayanan medis.
Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menilai penanganan terhadap korban dinilai tidak maksimal dan akan segera memanggil pihak terkait untuk dimintai keterangan.
Kericuhan bermula saat pagar pembatas jebol akibat membludaknya penonton yang ingin menyaksikan konser gratis tersebut. Acara ini digelar dalam rangka peresmian Surabaya Expo Center sebagai pusat kreativitas anak muda Surabaya. Akibat insiden itu, tercatat sebanyak 9 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 2 di antaranya adalah petugas keamanan dan 6 orang lainnya merupakan warga atau penonton.
Para korban dievakuasi dan dibawa ke RSUD dr Mohammad Soewandhie untuk mendapatkan perawatan. Namun, muncul keluhan dari masyarakat bahwa penanganan medis yang diberikan tidak maksimal. Hal ini pun menjadi sorotan tajam mengingat acara tersebut merupakan kegiatan resmi yang berkaitan dengan kepentingan Pemerintah Kota Surabaya.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri atau akrab disapa Kaji Ipuk, mengaku prihatin dan langsung turun ke lokasi. Ia menegaskan bahwa Dinas Kesehatan dan pihak rumah sakit seharusnya lebih sigap mengantisipasi situasi darurat mengingat acara tersebut diketahui akan dihadiri massa besar.
“Mestinya sigap, di mana ada kerumunan secara otomatis mereka harusnya bisa antisipasi. Saya mendengar keluhan beberapa korban yang mengaku tak tertangani dengan baik,” ujar Kaji Ipuk.
Lebih jauh ia menekankan, rumah sakit merupakan fasilitas vital yang harus siap siaga setiap saat, baik dari segi sarana prasarana maupun sumber daya manusia. Ia juga menyinggung bahwa keluhan soal pelayanan di RSUD Soewandhie bukan kali ini saja terjadi.
“Bukan kali ini saja, saya sering menerima komplain warga terkait keluhan layanan kesehatan di rumah sakit Soewandhi, tolong diperbaiki,” tegasnya.
Menurut politisi PDIP ini, layanan kesehatan menyangkut nyawa manusia, sehingga naluri petugas harus langsung tanggap saat ada kondisi darurat seperti kericuhan massal. Ironisnya, dalam insiden kali ini justru beredar informasi bahwa tidak ada dokter jaga saat para korban tiba.
“Yang terjadi malah sebaliknya, saya dengar tidak ada dokter jaga saat insiden terjadi. Ini ironis di mana Surabaya yang terus berbenah sebagai kota dengan layanan publik terbaik justru abai terhadap peristiwa semacam ini,” tambahnya.
Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihak DPRD Surabaya akan segera memanggil Kepala Dinas Kesehatan serta Direktur RSUD dr Soewandhie untuk dimintai penjelasan resmi terkait kendala pelayanan tersebut.
“Ini ndak bisa dibiarkan seperti ini, emanlah Suroboyo kota-ne apik, tapi layanan kesehatan dikeluhkan. Ayo kita perbaiki bersama,” pungkasnya. (*)






