KabarBaik.co, Jombang – Garis polisi masih membentang di depan rumah kos sederhana di Desa/Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Namun, pembatas itu tak menghalangi niat warga untuk mengirimkan doa bagi Khoiriah alias Puji, 47, perempuan penyandang tunagrahita yang meninggal dunia secara tragis akibat dugaan penganiayaan.
Rabu (17/6) sore, tepat pada hari ketujuh sejak kepergian Khoiriah, sejumlah ibu-ibu warga sekitar berkumpul di luar area yang masih dipasangi police line. Mereka duduk beralaskan tikar melantunkan tahlil dan doa dengan khusyuk di tengah suasana mendung yang sesekali disertai gerimis.
Di sela kegiatan itu, seorang warga membawa nasi kotak untuk dibagikan kepada jemaah. Sederhana, namun penuh makna. Tahlilan tersebut menjadi bentuk kepedulian warga kepada almarhumah yang baru sekitar dua pekan tinggal di lingkungan tersebut.
Khoiriah diketahui datang ke rumah kos itu bersama kakak kandungnya, S, 61, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani proses hukum di Polres Jombang.
Meski tidak mengenal dekat sosok Khoiriah, warga merasa terpanggil untuk hadir dan mendoakan.
“Di sini itu semuanya kalau ada orang meninggal, ya biar orang kontrak atau warga sini, ya tetap guyub. Dibacakan tahlil bersama,” kata Khusnia, pemimpin tahlil putri, saat ditemui seusai acara.
Menurut Khusnia, sebagian besar warga memang tidak banyak berinteraksi dengan Khoiriah semasa hidup. Selain karena baru tinggal di lingkungan tersebut, kondisi korban yang mengalami keterbelakangan mental membuatnya jarang bergaul dengan warga sekitar.
“Kesehariannya saya kurang tahu karena masih baru. Saya cuma sering melihat saja. Kalau berkat seperti ini dari warga yang punya kontrakan,” ujarnya.
Meski kegiatan harus dilakukan di luar garis polisi dan cuaca kurang bersahabat, warga tetap menyelesaikan rangkaian doa hingga malam ketujuh.
“Iya, tetap dilaksanakan di luar. Gerimis ya tetap di situ. Ini lengkap tujuh hari,” tutur Khusnia.
Kebersamaan warga Jogoroto itu menghadirkan sisi kemanusiaan di tengah kasus yang menyita perhatian publik. Saat proses hukum terus berjalan, warga memilih menunjukkan empati dengan cara yang paling sederhana mengirimkan doa untuk seseorang yang semasa hidupnya nyaris tak dikenal banyak orang di lingkungan tempat ia tinggal.
Sementara itu, penyelidikan kepolisian mengarah pada dugaan kuat bahwa Khoiriah menjadi korban penganiayaan. Dugaan awal yang menyebut korban terpeleset di kamar mandi akhirnya terbantahkan setelah hasil autopsi forensik dan keterangan sejumlah saksi mengungkap adanya tanda-tanda kekerasan sebelum korban meninggal dunia.






