Wakil Ketua DPRD Surabaya Respons Kritik Media Terkait Satu Tahun Eri-Armuji

oleh -69 Dilihat
c5c085f8 3a42 49e7 bc85 e4fd179b6bd7
Wakil Ketua DPRD kota Surabaya Arif Fathoni

KabarBaik.co, Surabaya – Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni merespons sejumlah kritik media terkait satu tahun kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji. Ia menilai secara umum kinerja pemerintahan kota masih berada di jalur yang diharapkan, meski membutuhkan penguatan pada aspek kinerja birokrasi lintas OPD.

Hal itu disampaikan Mas Toni sapaan akrab politisi Golkar ini, saat menjawab pertanyaan kritis peserta Forum Wartawan (Forwan) Surabaya dalam FGD evaluasi Setahun Kepemimpinan Eri–Armuji, yang juga dihadiri Kepala Bappeda Surabaya Irvan Wahyudrajad dan anggota DPRD Surabaya, di Hotel Aria Centra, Kamis (5/2).

Teknokratik dan Detail, Tapi Tantangan Ada di Birokrasi

Fathoni menilai gaya kepemimpinan Eri Cahyadi sangat teknokratik dan detail dalam perencanaan pembangunan kota.

“Gaya kepemimpinan Mas Wali ini teknokratik banget, detail dalam perencanaan. Geniusitas berpikirnya terlihat bagaimana kota ini benar-benar ingin dibawa maju,” ujarnya.

Namun, ia mengakui masih terdapat sebagian birokrat di lingkungan Pemkot Surabaya yang belum sepenuhnya mampu menerjemahkan visi dan kehendak wali kota, terutama dalam urusan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

“Seringkali gerakannya lambat, khususnya yang menyangkut lintas OPD. Padahal kita hidup di era birokrasi melayani, bukan birokrasi dilayani,” tegasnya.

Menurut Fathoni, penguatan koordinasi birokrasi menjadi kunci agar arah pembangunan yang tertuang dalam RPJMD dapat terimplementasi secara utuh.

Soal Kritik, DPRD Tetap Ingatkan Pemerintah

Menjawab kritik wartawan terkait relasi politik DPRD dengan pemerintah kota, Fathoni menegaskan fungsi pengawasan tetap berjalan, meski komunikasi politik saat ini berlangsung lebih harmonis.

“Pemerintahan yang tidak diingatkan itu potent to corrupt. Cara mengingatkannya mungkin berbeda, tapi nalar kritis harus tetap terbangun,” katanya.

Ia menyebut kritik tidak selalu harus disampaikan ke ruang publik, namun dapat disampaikan melalui mekanisme dialog langsung agar solusi lebih cepat diambil.

Era Media Sosial dan Tekanan Netizen

Terkait derasnya kritik publik di media sosial, Mas Toni menilai hal tersebut sebagai konsekuensi kepemimpinan di era teknologi informasi.

“Hari ini bukan hanya wali kota yang disorot. Siapa pun yang muncul di media pasti direspons netizen. Tinggal mau dilayani atau diabaikan,” ujarnya.

Ia menambahkan politisi dan pejabat publik dituntut mampu berdialog dengan netizen, perempuan, dan generasi muda sebagai bagian dari komunikasi politik modern.

Surabaya Kota Strategis dan Laboratorium Kebinekaan

Mas Toni juga menyinggung posisi strategis Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur sekaligus laboratorium kehinekaan nasional yang rentan terhadap dinamika sosial.

Ia mencontohkan kasus ketegangan di media sosial yang sempat muncul beberapa waktu lalu, namun berhasil diredam melalui langkah cepat lintas lembaga.

“Alhamdulillah hari ini Surabaya kembali kondusif dan siap menyongsong peran strategis sebagai pintu gerbang Ibu Kota Nusantara pada 2028,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.