KabarBaik.co, Jakarta – Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University mendapat kesempatan melihat langsung praktik pengelolaan industri pangan nasional saat melakukan kunjungan akademik ke pabrik Bogasari di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Selama hampir tiga jam, tujuh mahasiswa doktoral bersama dosen pendamping berdiskusi dengan jajaran manajemen Bogasari yang dipimpin Kepala Divisi Bogasari, Franciscus Welirang. Pertemuan itu menjadi ruang bertukar gagasan mengenai ketahanan pangan, strategi bisnis, hingga pemberdayaan UMKM.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari aktualisasi mata kuliah Teori Manajemen dan Perkembangannya dalam Program Doktor Ilmu Manajemen IPB. Para mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini berasal dari angkatan pertama program doktor tersebut dan memiliki latar belakang profesi yang beragam, mulai dari dosen, tenaga ahli, hingga konsultan.
Rombongan didampingi Guru Besar Manajemen IPB, Prof. Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M.Sc., yang menilai kunjungan lapangan menjadi bagian penting untuk mempertemukan teori di ruang kuliah dengan praktik nyata di dunia industri.
Dalam paparannya, Franciscus Welirang atau yang akrab disapa Franky menjelaskan perjalanan Bogasari sebagai industri tepung terigu pertama di Indonesia yang kini memasuki usia ke-55. Ia juga mengulas bagaimana industri tepung terigu berkontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Franky, tepung terigu merupakan produk antara yang justru menciptakan nilai tambah karena menjadi bahan baku berbagai produk makanan. Dari industri inilah lahir jutaan pelaku usaha di sektor pangan.
“Hampir 70 persen pelanggan Bogasari merupakan UMKM. Artinya, industri tepung terigu ikut menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Minggu (5/7).
Ia juga menjelaskan bahwa tepung terigu memiliki keunggulan karena mudah dipadukan dengan berbagai bahan pangan lokal. Kolaborasi tersebut menghasilkan beragam produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Franky mencontohkan sejumlah UMKM binaan Bogasari yang mengembangkan produk berbasis pangan lokal, seperti kue berbahan salak dari Balikpapan, aneka kue kering berbahan kacang-kacangan dan kopi dari Lombok, roti durian, mi berbahan buah naga, mi wortel, hingga roti bagelen yang memadukan tepung singkong dengan tepung terigu.
“Melalui tepung terigu, nilai ekonomi komoditas pertanian lokal dapat meningkat. Potensi pangan berbasis kearifan lokal inilah yang terus dikembangkan melalui Bogasari Baking Center untuk melatih UMKM maupun masyarakat yang ingin memulai usaha makanan,” jelasnya.
Tak hanya mengikuti diskusi di ruang pertemuan, para mahasiswa juga diajak mengunjungi laboratorium, area produksi Mill AB, hingga dermaga Bogasari untuk melihat secara langsung proses operasional perusahaan.
Dalam sesi tanya jawab, berbagai isu turut dibahas, mulai dari tata kelola perusahaan, strategi pemasaran, hingga komitmen Bogasari terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Sejumlah program keberlanjutan yang dipaparkan antara lain pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pemanenan air hujan (rain harvesting), penanaman mangrove, serta pengelolaan sampah.
Di akhir kegiatan, Prof. Jono mengaku kunjungan akademik tersebut memberikan pengalaman yang memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai implementasi teori manajemen di dunia industri.
“Banyak wawasan baru yang kami peroleh. Pengamatan langsung dan diskusi dengan pelaku industri menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kami berterima kasih kepada Bogasari atas kesempatan ini dan berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut,” ujarnya. (*)






