KabarBaik.co, Surabaya – Jelang rencana penyertaan modal, PT Jamkrida Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya sesama BUMD dan lembaga keuangan. Langkah ini ditempuh agar perusahaan bisa tumbuh sehat, berkelanjutan, dan memberikan dampak maksimal bagi masyarakat Jawa Timur.
Direktur Utama PT Jamkrida Jatim Untung Heri Sukariyanto menyampaikan hal tersebut dalam acara Diskusi Publik yang digelar oleh Pokja Wartawan Indrapura. Menurutnya, sinergi adalah kunci utama keberhasilan perusahaan, ibarat analogi masa kecil yang harus ‘nggandol’ atau bekerja sama untuk bisa melangkah lebih jauh.
“Sudah 7 tahun kami melihat, supaya Jamkrida Jatim ini bisa tumbuh berkembang menjadi perusahaan yang sehat dan berkontribusi kepada masyarakat serta seluruh stakeholder, harus melakukan sinergi dan kolaborasi. Ini kuncinya. Kalau mau sukses dan tumbuh besar, kita harus bersinergi,” ujar Untung Heri, Selasa (30/6).
Ia membandingkan kondisi perusahaan dengan pengalaman masa lalu. Dahulu, untuk bepergian jauh, anak-anak harus bersinergi dengan pemilik sepeda atau menumpang kendaraan lain. Hal serupa berlaku bagi Jamkrida yang harus ‘bergandeng tangan’ namun tetap saling menguntungkan dan tidak mengganggu operasional mitra.
“Kalau dulu kita ‘nggandol’ sepeda atau kereta api supaya bisa sampai tujuan. Nah, di Jamkrida juga begitu. Kita harus bersinergi minimal dengan Bank Jatim dan Bank UMKM Jatim. Tapi kita ‘gandulnya’ enggak boleh ngerepoti atau mengganggu, justru saling menguntungkan dan melengkapi fungsi masing-masing,” tegasnya.
Peran Vital Penjaminan Kredit
Sebagai lembaga penjaminan kredit, keberadaan Jamkrida sangat bergantung pada penyaluran kredit yang dilakukan oleh perbankan. Oleh karena itu, kolaborasi erat dengan lembaga keuangan mutlak diperlukan.
“Jamkrida itu kan penjamin. Kalau tidak ada kredit, ya tidak ada yang perlu dijamin. Makanya kami selalu berupaya agar kredit-kredit yang disalurkan oleh Bank Jatim dan Bank UMKM bisa difasilitasi penjaminannya oleh kami,” jelasnya.
Meskipun demikian, Untung menjelaskan bahwa kapasitas penjaminan perusahaan memiliki batas. Saat ini, total kapasitas penjaminan Jamkrida Jatim mencapai Rp 9 triliun. Sementara realisasi kredit Bank Jatim saja bisa mencapai sekitar Rp 50 triliun per tahun dan Bank UMKM sekitar Rp 15-20 triliun.
Jika seluruhnya dijamin, tentu akan melebihi kapasitas dan diawasi ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga diperlukan mekanisme reasuransi atau penjaminan ulang jika terjadi kelebihan kapasitas.
Solusi bagi UMKM
Untung Heri menyoroti pentingnya kehadiran Jamkrida bagi pelaku UMKM. Salah satu kendala utama UMKM saat mengajukan modal usaha ke bank adalah keterbatasan agunan atau jaminan fisik.
“Seringkali UMKM punya peluang usaha besar, misal orderan naik dari Rp 1 juta jadi Rp 5 juta, tapi butuh modal. Saat mengajukan ke bank, kendalanya sering di agunan. Kalau pinjam kecil mungkin cukup BPKB motor, tapi kalau sudah puluhan hingga ratusan juta, butuh sertifikat tanah atau rumah. Padahal banyak UMKM yang belum punya atau sertifikatnya belum atas nama sendiri,” paparnya.
Di sinilah peran strategis Jamkrida Jatim. Perusahaan hadir memberikan fasilitas penjaminan kredit (Sertifikat Penjaminan) kepada bank, sehingga UMKM yang layak usaha namun kurang dalam hal agunan tetap bisa mendapatkan pembiayaan.
“Jamkrida membantu melengkapi kekurangan agunan tersebut dengan menerbitkan jaminan. Jadi nasabah tetap dapat kredit, bank tetap aman, dan usaha bisa jalan. Ini bentuk kontribusi nyata kami untuk mendorong roda perekonomian Jawa Timur,” pungkas Untung Heri. (*)






