KabarBaik.co, Bojonegoro – Di tengah berkembangnya tren pertanian modern di Bojonegoro, sebuah kebun melon hidroponik di Desa Sambongrejo, Sumberrejo, berhasil mencuri perhatian masyarakat. Bukan hanya karena menghasilkan buah berkualitas, tetapi juga menghadirkan pengalaman unik berupa wisata petik melon langsung dari kebun.
Adalah El Farm, usaha budidaya melon hidroponik yang dirintis pasangan suami istri dengan semangat belajar dari pekarangan rumah. Dari sekadar mencoba menanam melon secara mandiri, kini usaha tersebut berkembang menjadi salah satu contoh pertanian hidroponik yang sukses di Bojonegoro.
Pemilik El Farm, Erieza, menuturkan bahwa perjalanan usahanya dimulai dari proses belajar bersama sang suami mengenai teknik budidaya melon. Setelah memahami berbagai tahapan perawatan dan produksi, mereka memberanikan diri mengembangkan usaha dalam skala yang lebih besar.
“Awalnya kami belajar menanam melon di rumah. Setelah memahami teknik budidayanya, kami mulai mengembangkan usaha ini secara lebih serius,” ujarnya, Selasa (16/6).
Saat ini El Farm mengelola lahan hidroponik seluas 500 meter persegi dengan kapasitas sekitar 1.500 tanaman melon. Empat varietas unggulan dibudidayakan, yakni Sweet Lavender, Sweet Hammi, Skid Row, dan Pearl Lady.
Memasuki masa panen kedua, El Farm mengambil langkah berbeda. Jika pada panen pertama seluruh hasil produksi disalurkan kepada distributor, kali ini kebun dibuka untuk masyarakat melalui program wisata petik melon.
Keputusan tersebut ternyata mendapat sambutan luar biasa. Sejak dibuka pada Jum’at kemarin (12/6) ratusan pengunjung datang untuk merasakan sensasi memilih dan memetik buah melon langsung dari tanaman yang masih segar. Pengunjung dapat datang mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB untuk menikmati pengalaman yang jarang ditemui di kawasan pedesaan Bojonegoro.
Daya tarik utama wisata ini bukan hanya aktivitas memetik buah. Pengunjung juga diperbolehkan mencicipi melon secara gratis di area kebun. Aroma segar buah yang baru dipanen berpadu dengan suasana hijau di dalam greenhouse menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi keluarga.
“Bisa gratis icip sepuasnya di kebun. Untuk harga semua jenis sama, Rp 25 ribu per kilogram. Untuk panen kali ini kami menyediakan Sweet Lavender dan Sweet Hammi,” kata Erieza.
Bagi banyak pengunjung, wisata ini tidak sekadar berburu buah segar. Ada nilai edukasi yang membuat mereka rela datang kembali. Salah satunya dirasakan Sulistya, warga Kecamatan Sugihwaras, yang sudah dua kali mengunjungi El Farm.
Kunjungan pertamanya dilakukan bersama teman-teman, sementara kunjungan berikutnya bersama sang anak. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana belajar yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal dunia pertanian secara langsung.
“Petik melon ini cocok untuk edukasi anak juga. Mereka bisa melihat proses budidayanya langsung. Selain itu melonnya manis dan bebas pestisida,” ungkap Sulistya.
Keberadaan El Farm menunjukkan bahwa pertanian modern tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah melalui sektor wisata dan edukasi. Inovasi seperti ini membuka peluang baru bagi petani untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mendekatkan masyarakat dengan dunia pertanian. (*)






