KabarBaik.co, Bojonegoro – Terbatasnya lapangan pekerjaan dengan upah yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan hidup mendorong semakin banyak warga Bojonegoro memilih mengadu nasib ke luar negeri. Kondisi tersebut terlihat dari melonjaknya jumlah Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) pada semester pertama tahun 2026 ini.
Dari Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Bojonegoro mencatat, hingga akhir Juni 2026 terdapat 304 CPMI, meningkat sekitar 41 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 180 orang.
Kenaikan itu terlihat hampir di setiap bulan. Pada Januari tercatat 28 CPMI, Februari 55 orang, Maret 29 orang, April 56 orang, Mei 57 orang, dan Juni menjadi yang tertinggi dengan 79 orang. Sebagai perbandingan, pada semester pertama 2025 jumlah CPMI per bulan hanya berkisar 17 hingga 47 orang.
Kepala Dinperinaker Bojonegoro Mahmudi mengatakan meningkatnya jumlah warga yang memilih bekerja ke luar negeri tidak lepas dari faktor ekonomi. Kesempatan kerja di luar negeri dinilai menawarkan pendapatan yang jauh lebih tinggi dibanding bekerja di dalam negeri.
“Minat masyarakat Bojonegoro meningkat karena secara ekonomi bekerja di luar negeri lebih menjanjikan dengan gaji yang lebih tinggi,” ujarnya, Jumat (17/7).
Fenomena tersebut menunjukkan masih banyak warga usia produktif yang kesulitan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan memadai di daerahnya. Akibatnya, bekerja di luar negeri menjadi salah satu pilihan untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
Berdasarkan data Dinperinaker, Kecamatan Kedungadem menjadi penyumbang CPMI terbanyak dengan 72 orang, disusul Kecamatan Dander 56 orang, dan Kecamatan Balen 23 orang.
Mayoritas CPMI merupakan lulusan SMA/sederajat sebanyak 187 orang, kemudian lulusan SMP/sederajat sebanyak 90 orang, serta lulusan SD sebanyak 33 orang.
Sementara itu, Negara Taiwan masih menjadi tujuan utama dengan 193 CPMI, disusul Hong Kong sebanyak 56 orang dan Malaysia sebanyak 29 orang. Sebagian besar pekerja perempuan bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) dan perawat lansia, sedangkan pekerja laki-laki banyak terserap di sektor industri dan konstruksi. (*)






