KabarBaik.co, Surabaya – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Jatim tak hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Di balik padamnya lampu, terdapat kekhawatiran besar terhadap roda perekonomian warga yang sehari-hari bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan usaha.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Khusnul Khuluk menilai gangguan listrik yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil, peternak, dan sektor produktif lainnya.
Menurut Khusnul, listrik telah menjadi kebutuhan utama dalam berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika pasokan energi terganggu, produktivitas usaha ikut terdampak dan berisiko menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.
“Pemadaman listrik secara bergiliran ini memang sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Dampaknya dirasakan langsung oleh peternak, pelaku UMKM, dan berbagai usaha kecil yang bergantung pada pasokan listrik,” kata Khusnul, Rabu (24/6).
Ia mencontohkan kondisi yang dihadapi peternak ayam modern. Saat ini banyak peternakan telah menggunakan sistem otomatis berbasis listrik untuk mengatur suhu kandang, ventilasi udara, hingga distribusi pakan. Ketergantungan terhadap listrik membuat sektor ini sangat rentan ketika terjadi pemadaman.
Menurutnya, risiko kerugian bisa semakin besar apabila genset cadangan yang digunakan mengalami gangguan saat listrik padam.
“Di peternakan ayam misalnya, banyak yang menggunakan sistem khusus berbasis listrik. Ketika listrik padam dan terjadi gangguan pada genset, maka ayam-ayam bisa banyak yang mati. Ini tentu sangat meresahkan peternak karena kerugiannya tidak sedikit,” ujarnya.
Tak hanya sektor peternakan, pelaku UMKM juga menghadapi persoalan serupa. Banyak usaha rakyat yang mengandalkan listrik untuk menjalankan operasional harian, mulai dari produksi makanan, jasa, hingga kedai kopi yang menggunakan berbagai peralatan berbasis tenaga listrik.
Bagi sebagian pelaku usaha, pemadaman listrik berarti aktivitas produksi terhenti, pelayanan kepada pelanggan terganggu, hingga berkurangnya pendapatan harian. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak berantai terhadap perekonomian masyarakat jika berlangsung dalam waktu lama.
Karena itu, Khusnul meminta pemerintah bersama PLN segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan yang menyebabkan pemadaman bergilir. Ia menilai penyebab gangguan perlu diurai secara tuntas, baik yang berkaitan dengan pasokan energi primer, gangguan sistem kelistrikan, maupun faktor cuaca.
Menurutnya, persoalan ini perlu mendapat perhatian serius karena menyangkut kehidupan masyarakat kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas usaha sehari-hari.
“Ini harus terus disuarakan sampai ke Pak Presiden. Biar beliau tahu bahwa yang terjadi di bawah bukan hanya sekadar lampu padam, tetapi berpengaruh langsung terhadap perekonomian masyarakat bawah,” tegasnya.
Bagi masyarakat, listrik bukan lagi sekadar penerang rumah saat malam hari. Di tengah aktivitas ekonomi yang semakin bergantung pada teknologi, pasokan listrik yang stabil menjadi salah satu penopang utama keberlangsungan usaha dan sumber penghidupan warga. Karena itu, harapan agar pemadaman segera teratasi kini menjadi kebutuhan mendesak bagi banyak pelaku usaha di Jawa Timur. (*)






